261 views

Pada hari Rabu 14 Maret 2021, Techpolitan mendapatkan kunjungan dari wakil menteri Ibu Angela Tanoesudibjo dan tim Kementerian Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Dengan didampingi oleh CEO Techpolitan, Bapak Rangga Yudo Yuwono, Lead of Mythologic Studio, Bapak Bernhard Sitompul,  dan Direktur Operasional, Bapak Wahyu Kinasih Harsono.

Dalam kunjungan kali ini Ibu Angela Tanoesudibjo mengamati secara langsung bagaimana para mahasiswa atau junior production berkontribusi langsung dalam sebuah proyek nyata di dalam sebuah industri. Di mana para junior ini juga terlihat bebas untuk mengekspresikan dirinya untuk berkontribusi dalam tim dengan didampingi para mentor industri.

Di samping itu, Ibu Angela Tanoesudibjo dan tim juga mengunjungi Mythologic studio sebagai partner industri dari Techpolitan yang masih berada di area yang sama. Beliau terlihat antusias dan mengapresiasi cara kerja tim Mythologic Studio, sebuah studio animasi yang meskipun baru berjalan hampir lima tahun namun sudah memiliki klien-klien terkemuka, baik itu BUMN maupun swasta.

Kinerja para top level management di Mythologic serta mentor industri dalam mengatur tim yang dibilang masih di posisi entry level ini juga cukup membuat tim dari Kemenparekraf takjub. Sebab nyatanya para tim senior ini dapat membangun suasana yang nyaman dengan mahasiswa dan junior di studio. Ibu Angela Tanoesudibjo juga terlihat puas dengan inovasi yang Techpolitan usung, yakni dengan menggabungkan dunia edukasi dan industri. Beliau berharap Techpolitan di kemudian hari dapat berpartisipasi secara aktif dalam pengembangan dunia kreatif digital di Indonesia. 

Ketika berkeliling kampus Techpolitan, Ibu Angela Tanoesudibjo juga sempat mengobrol sebentar dengan para manager dan CEO Techpolitan. Di mana CEO Techpolitan dengan senang hati menjelaskan tujuan didirikannya Techpolitan di depan Wamen Parekraf secara langsung. Menurut Rangga Yudo Yuwono sebagai CEO Techpolitan, Techpolitan hadir untuk menjadi jembatan dan solusi untuk menghubungkan gap antara edukasi dan industri agar nantinya generasi penerus Indonesia dapat memiliki kemampuan sesuai dengan bidangnya baik secara akademi maupun praktek. Di era revolusi industri 4.0 seperti sekarang, dibutuhkan kemampuan agility dan adaptasi yang tinggi agar para mahasiswa dapat bersaing dengan tenaga kerja asing di dunia kerja.

Go Top